Lynx dan Leena terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka. Seorang pria terbaring tak sadarkan diri dengan luka-luka di seluruh tubuhnya, sementara di sampingnya duduk seorang wanita yang tampak terluka dan ketakutan.

"Apa yang terjadi?" tanya Lynx dengan nada khawatir, mendekati mereka perlahan.

Wanita itu mendongak, ketakutan jelas tampak di wajahnya, dan tangannya gemetar saat memeluk pria yang tak sadarkan diri. Rambutnya berantakan, dan wajahnya penuh debu seolah telah lama terjebak dalam pelarian., raut wajahnya penuh keputusasaan. "Tolong, kami membutuhkan bantuan. Dia terluka parah," ujarnya dengan suara lemah.

Lynx dan Leena segera menghampiri mereka. Lynx berjongkok di dekat pria yang terbaring, dengan hati-hati memeriksa kondisinya.

"Tenang, kami akan membantu kalian," kata Lynx, lalu menoleh pada Leena. "Leena, tolong berikan air dan buah-buahan yang kita bawa."

Leena mengangguk cepat, lalu bergegas mengambil perbekalan mereka. Sementara itu, Lynx terus memeriksa kondisi pria yang terluka.

"Lukanya tidak terlalu dalam, tapi dia tampak kelelahan dan kehausan," gumam Lynx sambil mengamati tubuh pria itu. "Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?"

Wanita itu menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara bergetar. "Kami... kami kabur dari tempat persembunyian, Chiko terluka saat kami diserang oleh serigala. Lalu kami tersesat dan tidak tahu harus kemana."

Lynx mengangguk paham, lalu menoleh pada Leena yang menyodorkan air dan buah-buahan dari tabung bambu ke wanita itu.

"Ini, minumlah," kata Leena sambil menyodorkan air pada wanita itu.

Wanita itu menerima air dari Leena, mengangguk pelan sambil berkata, “Terima kasih.” Namun, saat Lynx mendekat, senyumnya tampak lebih hangat padanya, seolah ada niat lebih dalam sorot matanya.

Leena tersenyum lembut, lalu menyodorkan buah-buahan. "Makanlah, kamu pasti lapar."

Wanita itu mengangguk, lalu mulai memakan buah-buahan itu dengan lahap, sementara Lynx kembali memeriksa kondisi pria yang terbaring.

"Siapa nama kalian?" tanya Lynx, berusaha mencairkan suasana.

"Namaku Sherly, dan pria ini adalah Chiko," jawab wanita itu setelah selesai makan.

Lynx mengangguk, lalu berkata, "Aku Lynx, dan ini Leena. Kami terdampar di pulau ini."

Sherly menatap Lynx dan Leena dengan tatapan terkejut. "Jadi kalian juga terdampar di sini?"

Lynx mengangguk. "Ya, sudah beberapa hari kami berada di pulau ini. Kami mencoba bertahan hidup di sini."

Sherly menghela napas panjang. "Kami juga sama. Kami juga tidak tahu kenapa kami bisa ada di sini. Tiba-tiba saja kami terbangun di tempat asing ini, tanpa tahu apa-apa."

Leena mengerutkan kening, lalu bertanya, “Kalian juga tidak tahu kenapa kalian bisa ada di sini?” Sherly menggeleng pelan, tetapi sejenak pandangannya menatap ke arah lain sebelum kembali menatap Leena. “Tidak, kami benar-benar tidak tahu,” katanya, suaranya terkesan datar, nyaris tak meyakinkan.

Lynx memperhatikan Sherly dengan seksama. Wanita itu tampak seumuran dengannya, mungkin sekitar 19 tahun. Ia juga menangkap kesan angkuh dan misterius dari Sherly, seolah ada sesuatu yang disembunyikan.

"Chiko tampaknya butuh istirahat," ujar Lynx sambil mengamati pria yang masih tak sadarkan diri itu. "Kami punya tempat berlindung yang cukup aman. Kalian bisa ikut dengan kami jika mau."

Sherly tampak ragu sesaat, lalu mengangguk. "Terima kasih, kami akan sangat berterima kasih jika kalian mau membantu kami."

Lynx tersenyum tipis, lalu berkata, “Kita tidak mungkin kembali saat ini, apalagi dengan Chiko yang masih belum sadar. Malam akan segera turun, dan kita harus mencari tempat aman untuk bertahan.” Suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin semakin membuat suasana terasa mencekam, sementara bayangan-bayangan hutan di sekitar mereka bergerak liar di bawah cahaya senja.

Leena dan Sherly menganggukkan kepala bersamaan, lalu Lynx segera memperhatikan keadaan di sekitar.

Lynx memperhatikan sekeliling dengan cermat, matanya menyapu pepohonan di sekitar mereka. Setelah beberapa saat, ia menunjuk ke arah sebuah pohon besar.

"Pohon itu cocok," ujarnya sambil menghampiri pohon tersebut. "Dahannya cukup rendah dan kuat, batangnya juga besar hingga bisa melindungi kita dari angin malam."

"Tapi bagaimana dengan Chiko?" tanya Sherly, matanya menatap cemas ke arah pria yang masih tak sadarkan diri itu.

"Aku akan menggendongnya naik," jawab Lynx. "Leena, bisakah kau mencari akar-akar kuat di sekitar sini? Kita butuh tali untuk mengikat Chiko di tubuhku saat memanjat."

Leena mengangguk cepat. "Aku tahu jenis akar yang kuat. Tunggu sebentar." Ia segera menghilang ke dalam semak-semak, sementara Lynx mulai memeriksa dahan-dahan pohon yang akan mereka gunakan.

Beberapa saat kemudian, Leena kembali dengan sejumlah akar panjang yang tampak kokoh. "Ini yang biasa kita gunakan untuk jebakan," ujarnya sambil menyerahkan akar-akar itu pada Lynx.

Dengan cekatan, Lynx mulai membuat simpul-simpul yang akan mengikat tubuh Chiko ke punggungnya. "Sherly, bantu aku mengangkat Chiko," pintanya.

"Oh, aku sangat lelah… mungkin lebih baik Leena saja yang membantu," Sherly tersenyum pelan sambil menatap Lynx, lalu menambahkan dengan nada lembut, 'Lynx pasti tahu cara melindungi orang dengan baik, kan?' Ada sedikit lirikan pada Leena yang seolah terselip dalam ucapannya, membuat Leena merasa tak nyaman.

Tanpa berpikir panjang, Leena bergegas membantu mengangkat tubuh Chiko sementara Lynx mengikatkan akar-akar itu, membuat semacam rangkaian tali yang menahan tubuh Chiko agar tidak tergelincir. Keringat mulai membasahi dahi Lynx saat ia merasakan beban tambahan di punggungnya.

"Leena, kau naik duluan," perintah Lynx. "Pastikan dahan yang akan kita gunakan cukup kuat."

Leena mengangguk dan mulai memanjat dengan hati-hati. Setelah menemukan posisi yang tepat, ia memberi isyarat pada yang lain. "Di sini aman! Dahan ini sangat kokoh."

"Sherly, kau berikutnya," ujar Lynx sambil menjauhi Sherly. Lynx merasa kaget karena Sherly tanpa disadari berdiri terlalu dekat disampingnya.

Aku lega ada kamu di sini, Lynx. Kamu memang bisa diandalkan,” kata Sherly dengan tatapan yang hampir membuat Leena menahan napas.

Kemudian dia mulai memanjat. Lynx memperhatikan dengan seksama, memastikan wanita itu tidak kesulitan dengan lukanya.

Setelah Sherly aman di atas, Lynx mulai proses yang paling sulit - memanjat dengan tubuh Chiko terikat di punggungnya. Otot-ototnya menegang saat ia mencengkeram batang pohon, perlahan mengangkat tubuhnya dan Chiko.

"Hati-hati, Lynx," bisik Leena dari atas, tangannya terulur siap membantu.

Lynx menggertakkan gigi, menahan beban tubuh Chiko yang berat di punggungnya. Setiap gerakan terasa semakin lambat, dengan napas yang semakin berat. Akhirnya, dengan bantuan tarikan Leena, Lynx berhasil mencapai dahan yang mereka pilih..

Dengan hati-hati, ia mulai melepaskan ikatan yang menahan Chiko di punggungnya, tubuhnya bergetar kelelahan.

"Bantu aku memposisikannya," pinta Lynx sambil mengatur napas. Bersama-sama, mereka memindahkan tubuh Chiko ke posisi bersandar pada batang pohon.

Lynx mengambil sisa akar yang mereka bawa dan mulai membuat ikatan baru. "Kita harus mengikatnya agar tidak terjatuh saat tidur," jelasnya sambil membuat simpul yang kuat namun tidak terlalu mengiris kulit Chiko.

Setelah memastikan Chiko aman, Lynx menyandarkan tubuhnya yang lelah ke batang pohon. Ia mengamati ketiga orang di hadapannya, Leena yang tampak khawatir, Sherly yang terlihat ketakutan, dan Chiko yang belum juga sadar.

"Kita aman untuk sementara," ujarnya pelan. "Tapi tetap harus waspada. Kita tidak tahu binatang buas apa yang bisa kita temui disini."

Cahaya senja mulai memudar, membuat bayangan-bayangan pepohonan semakin panjang. Di kejauhan, suara-suara hewan malam mulai terdengar, menandakan malam yang panjang akan segera dimulai.

Sepanjang hari, Leena memperhatikan Sherly tampak seperti tidak peduli dengan kondisi Chiko..

"Jadi, kalian juga terdampar di pulau ini?" tanya Sherly, memecah keheningan.

"Ya, sudah beberapa hari kami berusaha bertahan hidup di sini," jawab Lynx sambil terus membawa Chiko.

"Apa kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kami bisa ada di tempat ini?" tanya Sherly lagi, nada suaranya sedikit menuntut.

Lynx menggeleng pelan. "Kami juga tidak tahu pasti. Tapi kami merasa ada sesuatu yang aneh dengan pulau ini."

Sherly terdiam sejenak, lalu berkata, "Tempat ini memang penuh misteri, entah kemana perginya penghuni tempat ini sebelumnya."

Lynx yang mendengarnya bertanya dengan penasaran sambil menatap Sherly “Kenapa kamu berpikir ada penghuni sebelumnya di tempat ini ?”

“A.. aku hanya menebaknya.” Jawab Sherly sambil memalingkan muka.

Leena hanya terdiam sambil terus memperhatikan Sherly. Meskipun Sherly menjawab, ada yang aneh dalam caranya menghindari tatapan. Leena mulai merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu, dan rasa penasaran semakin menyesakkan dadanya.

Saat ditanya lebih lanjut, Sherly menghindari kontak mata, hanya mengangkat bahu dengan ekspresi angkuh. "Kenapa? Apa semua harus kamu ketahui, Leena?" Sherly berkata, nadanya pelan namun dingin.

Mendengar jawabannya yang seolah menutupi sesuatu, Lynx dan Leena tidak ingin membuat Sherly merasa tidak nyaman. Leena berusaha untuk tetap bersikap ramah dan mengalihkan pembicaraan.

“Di mana kamu tinggal?” Lynx bertanya ingin mengetahui lebih jauh mengenai Sherly.

“Aku dari Sakarno” Jawab Sherly yang dibalas dengan ekspresi kaget oleh Leena. “Sukarno? Aku berasal dari Umbusari. Berarti asal kita berdekatan.” Kata Leena setelah mengetahui asal Sherly.

Sherly yang mendengarnya pun kaget dan merasa senang mendengarnya. “Apakah Chiko juga berasal dari Umbusari?” tanya Leena lebih lanjut.

Sherly menggelengkan kepala dan berkata “Tidak, dia berasal dari Bitang”.

Kali ini Lynx yang kaget mendengarnya karena Bitang bersebelahan dengan kotanya Sarinda. “Berarti dia lokasinya berdekatan denganku, Sarinda” Kata Lynx.

Suasana mendadak hening memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa tempat tinggal Lynx dan Chiko berdekatan begitu juga Leena dan Sherly.

Kemudian mereka membicarakan berbagai pengalaman mereka selama berada di pulau tersebut, Leena juga menceritakan bagaimana asal pakaian kulit yang dikenakannya tanpa menceritakan pengalaman sebelum mereka mendapatkan pakaian tersebut saat Sherly bertanya-tanya mengapa Lynx dan Leena bisa menggunakan pakaian dari kulit.

Selama pembicaraan, Lynx dan Leena merasa ada yang ditutupi dari cerita Sherly.

Chiko yang perlahan-lahan sadar, menatap Leena dan Lynx dengan tatapan bingung. "Di mana... ini? Siapa kalian?"

"Tenang saja, kau aman bersama kami," kata Lynx, berusaha menenangkan. "Kami akan membantumu dan Sherly."

Chiko mengangguk pelan, lalu mulai meminum air dan memakan buah-buahan yang diberikan Leena. Sambil makan, Chiko memperhatikan sekitar dengan seksama, tampak waspada.

"Tempat ini cukup aman," ujar Lynx. "Maaf kami tadi terpaksa mengikatmu karena takut dirimu terjatuh."

“Terima kasih…," Chiko mengangguk pelan dengan wajah lelah. "Kalian benar-benar menyelamatkan kami,” ujarnya, suaranya nyaris berbisik.

Sementara Sherly membuang muka sambil berbisik pelan kepada dirinya sendiri “Huh.. dasar tidak bisa diandalkan.”.

Leena tersenyum, lalu berkata, "Jangan sungkan. Kami senang bisa membantu. Lagipula, kita semua sedang dalam situasi yang sulit di pulau ini."

Chiko yang telah selesai makan, menatap Lynx dan Leena dengan rasa penasaran. "Jadi, kalian juga terdampar di sini?"

Lynx mengangguk. "Ya, kami sudah beberapa hari berusaha bertahan hidup di pulau ini. Sherly sudah menceritakan, kalian sama seperti kami, sama sama tidak tahu kenapa bisa ada di sini."

Chiko mengerutkan kening, lalu berkata, "Memang aneh sekali.Kami tiba-tiba terbangun di tempat asing ini."

Leena bertanya dengan nada hati-hati, "Kalian sempat melihat apa saja di pulau ini? Mungkin tanda-tanda lain orang yang pernah tinggal di sini?" Sherly terdiam, sekilas tampak ragu. "Hanya hutan dan pantai," katanya. Tapi cara dia melirik ke arah Chiko seolah menyiratkan sesuatu yang tidak diungkapkan sepenuhnya.

Saat mereka saling memperkenalkan diri dan bercerita, Lynx dan Leena tampak saling berpandangan, mereka merasakan ada sesuatu yang janggal. Chiko dan Sherly tampak enggan membicarakan hal hal tertentu mengenai tempat tinggal mereka selama di pulau.

"Kami sebenarnya sedang mencari jalan keluar dari pulau ini," ujar Leena, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Mungkin kalian bisa bergabung dengan kami? Gua tempat tinggal kami cukup aman untuk ditempati, tapi mungkin kita harus membangunnya ulang agar nyaman untuk kita semua"

Chiko tersenyum lemah. "Bantuan kalian benar-benar berarti," ujar Chiko, terlihat lelah namun berterima kasih.

Sherly hanya mengangguk sambil menggeser duduknya, berusaha mendekati Lynx, lalu berkata, "Terima kasih atas tawaran kalian. Tapi kami tidak ingin merepotkan."

Lynx menghela napas pelan, lalu berkata, "Tidak apa-apa, kami justru senang bisa membantu. Lagipula, di pulau ini kita harus saling membantu untuk bertahan hidup."

Sherly terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah, kami menerima tawaran kalian."

Pagi harinya, Lynx dan Leena memeriksa kondisi Chiko, untuk memastikan Chiko sanggup melanjutkan perjalanan.

Melihat Chiko yang sudah tampak lebih kuat meski terlihat masih pucat, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gua.

Setelah turun dari pohon, lalu mereka bersama-sama berjalan menuju gua tempat Lynx dan Leena tinggal.

Lynx berjalan di depan, memimpin rombongan kecil mereka melalui jalan setapak yang telah ditandai sebelumnya dengan irisan-irisan pada batang pohon. Matanya terus mengawasi sekeliling, waspada akan kemungkinan munculnya babi hutan yang sebelumnya menyerang mereka atau hewan buas lainnya.

"Ikuti jejak yang sudah kutandai ini," ujar Lynx sambil menunjuk bekas irisan di pohon. "Tanda ini akan membawa kita kembali ke gua dengan aman."

Sherly memperhatikan tanda-tanda itu dengan seksama, sementara Chiko berjalan perlahan di belakangnya, sesekali menyandar pada batang pohon untuk mengatur napas. Leena berjalan di posisi paling belakang, matanya tak lepas mengawasi keadaan Chiko.

"Kau baik-baik saja?" tanya Leena pada Chiko yang tampak masih lemah.

Chiko mengangguk pelan. "Ya, hanya butuh istirahat sebentar," jawabnya sambil mengusap keringat di dahi.

Mereka berhenti sejenak, memberi kesempatan Chiko beristirahat. Lynx memanfaatkan waktu ini untuk memastikan mereka masih berada di jalur yang benar. Suara-suara hewan terdengar samar dari kejauhan, membuat mereka tetap waspada.

"Kita harus bergerak dengan tenang," bisik Lynx. "Babi hutan sering berkeliaran di sekitar sini, dan kita tidak mau menarik perhatian mereka."

Sherly merangkul lengan Lynx tanpa izin, nyaris menggantungkan seluruh berat badannya. "Lynx, tolong jangan tinggalkan aku. Aku takut sekali, tidak seperti orang lain yang mungkin sudah biasa dengan alam liar," ujarnya sambil melirik Leena dengan tatapan sinis. "Kamu kan pria kuat, pasti bisa menolongku.

"Jaraknya agak jauh karena kita harus memutar. Kita akan melewati pantai tempat kami membuat tanda SOS lebih dulu," jawab Lynx sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Sherly. Tanpa disadarinya, tatapan tajam Leena selalu mengarah kepada mereka.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah hati-hati. Ranting-ranting kering berbunyi pelan di bawah kaki mereka. Lynx sesekali berhenti untuk mendengarkan suara-suara mencurigakan, sebelum memberi isyarat pada yang lain untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah beberapa saat berjalan, pepohonan mulai merenggang dan mereka bisa mendengar debur ombak. Cahaya matahari yang terang menyambut mereka saat keluar dari lindungan hutan, menampakkan hamparan pasir putih pantai yang luas.

Setelah berjalan menyusuri pantai Leena berkata "Ini dia," sambil menunjuk ke arah tulisan 'SOS' besar yang terbuat dari batu batu di atas pasir. "Kami membuatnya sejak hari pertama terdampar di sini."

Sherly dan Chiko memandang tanda itu dengan sorot mata penuh harap. "Apa ada yang pernah melihatnya?" tanya Sherly.

Leena menggeleng pelan. "Belum. Tapi kami terus berharap suatu hari nanti ada kapal atau pesawat yang melintas dan melihat tanda ini," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Setidaknya ini memberi kami harapan."

Mereka berdiri sejenak memandang hamparan laut biru yang tampak tak berujung. Ombak bergulung pelan di tepian pantai, membawa aroma asin yang familiar. Untuk sesaat, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, membayangkan kehidupan normal yang telah mereka tinggalkan.

"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan," kata Lynx akhirnya, memecah keheningan. "Gua tidak terlalu jauh dari sini, tapi kita harus bergegas sebelum gelap."

Mereka kembali memasuki hutan, kali ini melalui jalur yang sedikit menanjak. Lynx membantu Chiko mendaki tanjakan yang curam, sementara Leena memastikan tidak ada yang tertinggal terlalu jauh di belakang. Sherly tetap waspada, matanya bergerak mengawasi setiap gerakan di sekitar mereka.

Suara-suara hewan hutan terdengar semakin jelas, menandakan mereka semakin dalam memasuki teritorial makhluk-makhluk liar itu. Namun Lynx tahu mereka berada di jalur yang aman, selama mereka tetap tenang dan tidak menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Di kejauhan, mereka bisa melihat tebing berbatu tempat gua berada. Lynx tersenyum tipis - sebentar lagi mereka akan sampai di tempat yang aman, tempat mereka bisa beristirahat dan memulihkan diri. Namun di sudut hatinya, ia masih menyimpan berbagai pertanyaan tentang kedua orang baru ini, dan misteri pulau yang masih belum terpecahkan.

Akhirnya, mereka tiba di gua tempat Lynx dan Leena tinggal. Dengan hati-hati, Lynx membaringkan Chiko di dalam, lalu Leena memberikan air dan buah-buahan lagi.

"Istirahatlah dulu, Chiko. Kau pasti sangat lelah," ujar Leena sambil tersenyum lembut.
